apa sih mahasiswa itu???!!

rrr.jpgPengertian “Mahasiswa” adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan dimnamis, insan sosial, dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.

“Islam” yang terkandung dalam PMII adalah Islam sebagai agama yang dipahami dengan haluan/paradigma ahlussunah wal jama’ah yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara iman, islam, dan ikhsan yang di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola perilakunya tercermin sikap-sikap selektif, akomodatif, dan integratif. Islam terbuka, progresif, dan transformatif demikian platform PMII, yaitu Islam yang terbuka, menerima dan menghargai segala bentuk perbedaan. Keberbedaan adalah sebuah rahmat, karena dengan perbedaan itulah kita dapat saling berdialog antara satu dengan yang lainnya demi mewujudkan tatanan yang demokratis dan beradab (civilized).

Sedangkan pengertian “Indonesia” adalah masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideologi bangsa (Pancasila) serta UUD 45.

menjadi mahasiswa berprestasi

ooo.jpgSejarah mencatat, mahasiswa tidak bisa lepas dari sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Pergerakan bangsa indonesia dimulai dari pergerakan mahasiswa. Generasi muda adalah penentu perjalanan bangsa di masa berikutnya. Mahasiswa sebagai inti dari generasi muda, mempunyai kelebihan dalam pemikiran ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya, dan ’kebersihan’ –nya dari noda orde masanya. Mahasiswa adalah motor penggerak utama perubahan. Mahasiswa diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan masyarakat.

Civitas akademika adalah elemen yang sangat penting dalam menunjang pelaksanaan pembentukan sumber daya yang handal. Akan tetapi, belum mencakup aspek yang beragam lainnya. Dengan modal tersebut diharapkan bisa mengembangkan dalam berbagai aspek dengan peran-peran yang berpengaruh seperti dalam bidang ilmu sosial, budaya, dengan tidak meninggalkan nilai-nilai pendidikan serta sains. Mahasiswa yang termasuk ke dalam civitas akademika harus berada di garda terdepan dalam upaya menopang pembentukan karakter yang positif, berkontribusi dalam perubahan yang lebih baik dalam semua tataran.

Corak kemahasiswaan tidaklah lepas dari budaya yang sangat istimewa (kritis, aktif, dinamis, kreatif, inovatif, dsb.), sayangnya pada masa sekarang virus-virus negatif telah melunturkan budaya keistimewaan tersebut, pemikiran kritis mahasiswa yang mulai hilang dan mengakibatkan mandulnya ide dan gagasan, sehingga perlu adanya sebuah perbaikan ke depan untuk memunculkannya kembali.

Adanya keinginan yang berarti untuk menuju suatu tujuan ke dalam suatu perubahan yang positif. Dengan selalu berpandangan ke depan dan menjadikan evaluasi sebagai pertimbangan perbaikan untuk kemajuan bersama. Berpegangan pada identitas mahasiswa dengan mengetahui fungsi dan peran mahasiswa yang sesungguhnya merupakan bekal awal dalam melangkah menuju perbaikan yang lebh berarti.

Oleh karena itu, perlu ada sebuah perubahan untuk bisa berperan serta dalam perbaikan ke depan. Yang nantinya akan memberikan kontribusi dalam perubahan yang nyata, sehingga terwujudnya tataran yang ideal dalam kompetensi serta keluasan dalam berpikir yang berintelektual tinggi dan dinamis dalam berorientasi.

Dan kesungguhan dalam berusaha pun harus tertancap dalam dada yang berkobar yang berujung pada motivasi yang tinggi menuju satu keserasian.

Hidup Mahasiswa!!

kenapa Harus Kuliah

maha.jpgKenapa harus kuliah sebentar? (Tanya kenapa?)

Seringkali orang bertanya kepada saya,
“Sudah semester berapa kuliahnya?”
“Sudah lima semester” (anggap saja)
“Wah, tinggal 3 semester lagi ya.”

Saya sejujurnya heran dengan orang-orang yang mau cepat-cepat lulus, karena terus terang saja saya takut ketika saya tidak lagi menyandang status sebagai mahasiswa. Saya benar-benar ngeri(ni beneran loh) membayangkan saya dengan menggunakan kemeja lengan panjang lalu berhadapan dengan tim pengembang(developer), lalu dengan source code, kemudian dengan tim pengembang lagi, lalu dengan source code lagi, begitu terus dan terus. Saya akan jelaskan kenapa?

Kenapa saya suka status mahasiswa:

1. Ada passive income.
Sejujurnya dan se-etikanya mahasiswa di “timur”, normalnya kedaan finansialnya disuplai ketika masih duduk di bangku pendidikan. Ketika kita bekerja, secara etika juga kita tidak boleh mendapat uang lagi dari orang tua, jadi kalau money management masih berantakan, ya ngak apa-apa, toh masih mahasiswakan, coba kalo udah kerja, “ih ngak tau malu”,”ngak mandiri”,”sampah masyarakat(untuk kaum sarcasme)” dll.

2. Tanggung jawab yang dipikul.
Ketika kita sudah kerja, orang akan memandang kita sebagai manusia. Manusia yang sudah boleh menerima tanggung jawab, karena kita sudah terhitung sebagai “manusia”. Jadi saya merasa tanggung jawab akan lebih dashyat

3. Kehilangan idealisme.
Saya banyak mengamati komentator orang, seringkali orang mengkomentari bahwa kita terlalu idealis karena masih mahasiswa, saya jadi berpikir, apa arti idealis itu? lalu saya mengamati apakah betul statement itu. Ternyata benar, dari beberapa orang yang saya sample dari populasi(duh, statistikanya keluar), saya melihat bagaimana drastisnya perbedaan cara pandang mahasiswa dengan “manusia produktif”, saya merasa cara pandang mereka begitu pesimis, begitu tidak idealis, ketika ditanya jawaban biasanya “ah, lu belom kerja aja. Teori di buku ama kerja di lapangan beda tahu”. Sejujurnya saya orang idealis dan saya suka dengan keidealismean saya, saya suka bahwa saya bisa memandang dunia dengan pandangan optimis. Saya sangat takut kehilangan keidealisme-an saya.

4. Masa-masa romance.
Ini alasan yang saya anggap lucu untuk diterangkan, mengingat status j*m**o yang saya sandang dan keadaan saya sekarang. Jujur aja ya, menurut saya masa-masa yang paling enak adalah masa kuliah. Jangan membayangkan kaya di TV dimana masa kuliah berarti memakai pakaian bebas terus tidur begadang(eh ini bener deh), sport dll (pokoke kaya di TV gitu lah). Kenyataannya di kampus cukup untuk membuat mabok, keluar dari lab jam 9 malam, mandi terus tidur kaya balok kayu tepar, gitu terus tiap hari, kapan waktu cari pacarnya?(kenyataan itu pahit) Karena ketika kita kerja nyari pasangan susah(kata orang). At least ketika kuliah sudah lebih mateng dari anak SMA.

5. Bisa banyak belajar
Kalau menyandang status mahasiswa artinya boleh salah untuk tidak mengulanginya lagi, kalo kerja, lu bisa siap-siap angkat kaki karena di-out. (Ini pribadi ya)Tapi yang penting saya terhindar dari yang namanya Biologi, Sosiologi, logi-logi aneh yang muncul secara ajaib bin gaib, yang bukunya tebal, membingungkan dan anehlah. Soalnya saya lemah di biologi jadi masalah nama-nama syaraf, penyakit, obat dan buku kedokteran yang tebalnya kaya yellow pages(mind you, hari genee udah ada yang namanya search engine boss), kiranya itu dijauhkan dari padaku dan Tuhan untungnya berbaik hatinya.(no offense untuk anak kedokteran, peace).

6. Mahasiswa dimanja
Di beberapa kesempatan yang namanya mahasiswa itu dimanja abis loh, dapat gratis lah, dapat pemotongan dll. Contohnya aja dapet OS asli, udah diregister lagi, kadang harga tiket cuma 50%. Di sisi lain, kalau misalnya mau ngambil sertifikasi kita bisa dapat diskon. Main lebih murah. Tidak enak apa lagi tuh.

7. Dianggap kaum intelektual
Ini entah kenapa pandangan publik(atau saya yang gr kali ya?) saya merasa mahasiswa dianggap kaum intelektual, sedangkan kalo udah kerja dianggapnya sebagai orang biasa. Nah, karena saya suka dianggap intelek, maka saya merasa menjadi mahasiswa itu enak banget loh.

dampak global warming

sdsd.jpgMungkin masih banyak orang yang tidak sadar dengan dampak atas bahayanya pemanasan global atau global warming. Saat ini masih banyak orang yang dengan sesuka hati menggunakan AC, pemanas ruangan, berlebihan dalam menggunakan air, kemana-mana naik mobil pribadi dan lain sebagainya. Sementara kebiasaan-kebiasan tersebut sadar atau tidak, sebenarnya dapat memicu semakin meningkatnya pamanasan global. Indonesia, negara yang kita tempati ini merupakan kontributor/penyumbang terbanyak urutan nomer tiga dalam hal meningkatnya pemanasan global.

Menurut situs http://www.wwf.or.id. Suhu permukaan bumi akan naik karena peningkatan emisi karbon dioksida serta gas-gas lain yang dikenal sebagai gas rumah kaca yang menyelimuti Bumi dan memerangkap panas. Gas rumah kaca adalah gas-gas di atmosfer yang memiliki fungsi seperti panel-panel kaca di rumah kaca yang bertugas menangkap energi panas matahari agar tidak dilepas seluruhnya ke atmosfer kembali.

Sementara para ahli mengatakan, Bumi sudah kehilangan kemampuan untuk ”mendinginkan” dirinya sendiri. Gas yang diproduksi oleh mobil dan industri, serta makin langkanya hutan sebagai penyerap karbon, membuat panas terperangkap. Ini seperti terjebaknya panas di dalam mobil yang kacanya tertutup rapat.

Berikut beberapa fakta yang dapat kita jadikan bahan renungan seputar bahaya dari dampak Global Warming.

  1. 100 juta warga di pesisir Asia permukimannya akan tergenang , dan 4.000 dari sekitar 17.500 pulau di Indonesia akan tenggelam.

  2. Air tidak akan cukup untuk umat manusia 25 tahun lagi.

  3. Es abadi (permafrost) di kutup akan meleleh sepenuhnya 40 tahun lagi. Permukaan air akan naik hingga 64 meter jika suatu lapisan es di bumi mencair.

  4. Tahun 2050, 130 juta penduduk di dunia terancam kelaparan, terutama di Asia dan Afrika.

  5. Tahun 2080 lebih dari 100 juta orang terancam bencana banjir tiap tahun, dan 30% garis pantai di dunia akan lenyap.

  6. Tahun 2090 akan ada air bah raksasa di Amerika Utara, dan ini bisa berulang 3-4 tahun sekali.

  7. 100 tahun mendatang 80% spesies tanaman dan hewan di dunia akan terancam punah. (Sumber: Kompas, 27 April 2007)

Lalu kalau begitu fakta yang terjadi, apa yang dapat kita lakukan untuk paling tidak dapat meminimalisir dampak dari Global Warming tersebut.

  1. Gunakan mobil hemat bensin. Perbaiki (tune-up) sistem knalpot pembakaran mobil agar tidak timbul gas rumah kaca, seperti karbon monoksida (CO). Naiklah kendaraan umum, atau gunakan sepeda, atau kalau perlu jalan kaki saja.

  2. Menulislah kepada pejabat pemerintah untuk mengadakan pembatasan penggunaan bahan bakar yang sesuai dengan tempat tinggal atau daerahmu. Dukung juga program uji emisi.

  3. Dukunglah, dan mungkin gunakan atau kembangkan pengembangan teknologi penghasil energi dengan energi ramah lingkungan seperti tenaga surya, tenaga angin, tenaga panas bumi, biogas, jarak dan lain sebagainya.

  4. Kurangi pemakaian AC, pemanas ruangan dan penggunaan air secara berlebihan.

  5. Tanamlah pohon dan lindungilah hutan. Memanam satu pohon di halaman depan rumah, selain berguna untuk peneduh juga dapat memberikan kontribusi untuk mengurani emisi.

  6. Dukung dan kalau bisa ikut serta dalam program daur ulang kertas, plastik dan logam. Mendaur ulang tumpukan koran yang tingginya 1,2 meter menjadi kertas daur ulang sudah dapat menyelamatkan satu pohon besar. Selain itu bila perlu beli dan gunakan produk-produk daur ulang.

  7. Kurangi pemakaian tisu dan kertas. Disiplinlah memilah sampah organik dan non-organik pada tong sampah rumah atau umum.

  8. Ikut serta dalam kampanye mengantisipasi pemanasan global. Menulislah dalam forum atau media tentang dampak, ancaman dan bagaimana cara mengatasinya.

  9. Boikot kendaraan yang mengeluarkan emisi gas buang berlebihan. (Sumber: Kompas, 27 April 2007)

Mengingat betapa bahayanya dampak yang dapat di akibatkan oleh pemanasan global tersebut. Maka kita sebagai generasi muda, generasi penerus bangsa, tidak ada kata lain mulai saat ini kita harus mulai merubah kebiasaan-kebiasaan yang dapat mengakibatkan meningkatnya pemanasan global tersebut. Karena tentunya kita semua (generasi muda) tidak ingin saat kita umur 40-50 tahun, penyakit seperti kanker kulit, penuaan dini, kehilangan tempat (wilayah) dan melarat bakal jadi temen dekat kita.

EntaH BagaiMana..!!

images.jpg‘Efek Rumah Kaca dan Pemanasan Global”

Peningkatan efek rumah kaca terutama disebabkan oleh pencemaran udara dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global, yaitu peningkatan suhu di permukaan bumi yang mengakibatkan perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut.

”Pemanasan Global”

Pemanasan Global adalah fenomena naiknya suhu permukaan bumi karena meningkatnya efek rumah kaca.

Efek rumah kaca di atmosfer meningkat akibat adanya peningkatan kadar gas-gas rumah kaca, antara lain karbon dioksida, metana, ozon.

Pemanasan Global atau Global Warming saat ini menjadi isu internasional. Isu tersebut timbul karena pemanasan global mempunyai dampak yang sangat besar bagi dunia dan kehidupan makhluk hidup, yaitu perubahan iklim dunia

Menurut beberapa pakar, bumi saat ini telah memasuki masa pemanasan global karena enam tahun terpanas dalam 100 tahun semuanya jatuh pada tahun 1980-an yaitu, dari yang tertinggi sampai terendah, tahun 1988, 1987, 1983, 1981, 1980, dan 1986

Perubahan Iklim Global

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa sejumlah kejadian alam selama ini memberikan tanda-tanda kuat bahwa iklim mulai tidak stabil.

Pada 1987, misalnya, tercatat suhu tinggi pemecah rekor terjadi di Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara. Rekor ini kembali dipecahkan di daerah-daerah tersebut pada tahun berikutnya.

Juga pada 1987 terjadi banjir besar di Korea, Bangladesh, dan di Kepulauan Maladewa (Maledives) akibat ombak pasang. Pada tahun berikutnya, Bangladesh mengalami banjir lagi, dan pada awal 1991 banyak korban jiwa akibat angin puyuh.

Daftar bencana alam ini masih dapat diperpanjang. Walaupun belum ada bukti langsung yang mengkaitkan kejadian-kejadian di atas dengan pemanasan global, atau belum ada indikasi bahwa iklim menjadi lebih mudah berubah, kejadian-kejadian tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja.

Bagaimana Keadaan Indonesia Jika Terjadi Perubahan Iklim?

Indonesia, seperti banyak negara berkembang lain, nampaknya bukan salah satu penyumbang terbesar bagi pemanasan global saat ini. Walaupun demikian, jika pola penggunaan energi dan perkembangan industri serta perusakan hutan yang terjadi saat ini berlangsung terus, ada kemungkinan bahwa Indonesia akan turut bertanggung jawab terhadap terjadinya pemanasan global. Sebagai contoh, emisi karbon dioksida Indonesia saat ini terbesar di Asia Tenggara. Pada 2010 diperkirakan emisi karbon dioksida akan meningkat lima kali dari kadar tahun 1986, yaitu mencapai 469 juta ton. Hal ini terjadi akibat peningkatan tingkat konsumsi listrik rumah tangga dan industri serta penggunaan energi yang tidak efisien.


Perdebatan penyebab Global Warming masih “seru”

Perdebatan penyebab Global Warming masih “seru”

globalwarming.jpgKetika menuliskan Global warming ‘ngga bisa’ dicegah ! tentunya banyak yang heran dan menganggap aku ngga konsen dengan lingkungan. Sebenernya bukan itu maksud saya menuliskan mengapa Global Warwing takbisa dicergah. Yang lebih penting perlu diketahui adalah bahwa yang diperlukan adalah bagaimana persiapan dan kesiapan kita “menyambut” kedatangan perubahan iklim. Persiapan “menyambut” ini lebih penting dari mencoba mencegahnya.

Nah kali ini Pak Awang H Satyana kawan dari BPMIGAS berdiskusi tentang bagaimana Global Warming ini telah menjadi sebuah “perdebatan” seru antara yang mempercayai disebabkan oleh ulah manusia dan mereka yang percaya GW hanyalah proses alami. KEdua kubu tentunya saling “melempar” hasil penemuannya.

Kata Pak Awang akhir tahun lalu, telah mendiskusikan soal penyebab pemanasan global saat ini (current global warming) apakah disebabkan alam (natural) atau manusia (man-made). Pak Awang selanjutnya menceritakan baru saja selesai membaca buku Al Gore (2006) : An Inconvenient Truth : the Planetary Emergency of Global Warming and What We Can Do about It – Rodale, New York. Ini buku yang sangat bagus, ilmiah, sederhana dalam penjelasan, santun dalam mengelola perbedaan pendapat, dan mudah dipahami. Di dalamnya banyak sekali foto2 spektakular dan info grafis yang baik sekali. Tentu Gore punya akses luas selama delapan tahun (1992-2000) sebagai wakil presiden AS ke lembaga-lembaga ilmiah di Amerika dalam mengumpulkan data yang ditampilkan dalam buku setebal 327 halaman ini. Buku ini sekaligus juga menjadi semacam otobiografi Al Gore karena Gore menganalogikan kepeduliannya kepada lingkungan sebagaimana kepeduliannya kepada keluarganya.

Buku ini merupakan the 1st New York Times Bestseller. Buku ini juga merupakan pendamping (companion) film DVD berjudul sama yang diapresiasi dengan the Academy Award untuk the best documentary feature. Usaha pembelaan linkungan Al Gore selama ini pun diganjar dengan Hadiah Nobel untuk perdamaian.

Al Gore sangat memahami perbedaan pendapat soal penyebab gobal warming. Di bawah kepemimpinan George Bush-Dick Chenney semua yang diprakarsai soal lingkungan selama masa Clinton-Gore benar2 dibalikkan. Secara ringkas, bisa dikatakan bahwa Clinton-Gore berpendapat bahwa global warming adalah masalah serius akibat manusia, sementara Bush-Chenney memandang remeh global warming dan bukan karena manusia. Di dalam buku ini, diakomodasi perbedaan2 pendapat itu, ditampilkan fakta2nya, dengan pembahasan yang menurut saya : santun.

sunspot.gifSecara mudah perubahan iklim di bumi dapat dipikirkan adanya tiga penyebab, masing-masing berpikiran berdasarkan atas proses-proses yang terjadi bersamaan (korelasional) yaitu antara lain :

  • Akibat ulah manusia
  • Akibat perubahan sistem dari dalam bumi sendiri
  • Perubahan dari luar (astronomical) , misalnya perubahan sun-spot seperti disebelah kanan ini.

Pak Awang kali ini tak akan mengulas buku Al Gore terbaru itu, tetapi ingin “membenturkannya” dengan buku terbaru dari Sorokhtin et al. (2007) : Global Warming and Global Cooling : Evolution of Climate on Earth – Elsevier Amsterdam, yang ulasannya ditulis oleh Lee Gerhard di AAPG Bulletin edisi Desember 2007. Sorokhtin dkk menulis buku ini dengan prinsip “starting from first principles when examining a controversial topic is always a good approach“. Mereka mengakomodasi prinsip ini dengan ekstrim. Mereka memulai dengan teori komprehensif asal fisik dan atmosfer Bumi berdasarkan prinsip2 fisika dan geokimia. Mereka mengkuantifikasi proses2 ini dan memunculkan teori adiabatik evolusi Bumi. Perubahan iklim skala besar didekati oleh teori adiabatik evolusi atmosfer dan iklim, sementara perubahan skala kecilnya dikontrol oleh gerakan benua, daur Milankovitch, dan produk sinar Matahari.

Adiabatic Process

Sorokhtin dan kawan-kawannya menolak hipotesis bahwa global warming akibat manusia (anthropogenic). Menurut mereka, berdasarkan teori adiabatik ini, emisi gas CO2 dan gas rumah kaca lainnya yang luar biasa besarnya pun tak akan mengubah temperatur atmosfer global. Mereka juga menolak teori gas rumah kaca sebagai penyebab perubahan iklim. Menurut perhitungan berdasarkan teori adiabatik, mereka menyimpulkan bahwa di dalam waktu 600 juta tahun, kandungan oksigen di dalam atmosfer akan menyebabkan temperatur global meningkat menjadi 80 C, sehingga Bumi tak akan layak dihuni seperti sekarang.

( “Teori termodinamika tentang adiabatis udah lupa je pakdhe “

adiabatik.jpgTeori adiabatic ini mengacu pada teori termodinamika pada siklus kimiawi dari bumi itu sendiri. Rumitnya kandungan-kandungan gas didalam bumi sendirilah yang membuat perubahan siklus-siklus yang tidak sederhana. Proses adiabatis (no 3 dalam gambar disebelah ini) dahulu dipelajari ketiaka berbicara soal perubahan temperatur dan volume. Dalam proses adiabatik ini tidak ada kalor yang masuk maupun keluar, jadi teorinya bukan karena adnya penambahan kalor dari matahari seperti dalam gambar diatas. Proses adiabatis ini mestinya dipelajari sewaktu belajar teori thermodinamika kan ?

Sorokhtin dkk (2007) telah menantang teori gas rumah kaca sebagai penyebab perubahan iklim sebab menurut mereka teori ini masih belum cukup menjelaskan perubahan itu karena itu mereka menampilkan teori alternatif berupa teori adiabatik yang didasarkan kepada sistem dinamika Bumi.

Manakah yang benar antara Gore (2006) dan Sorokhtin et al. (2007) ? Kita bisa mengumpulkan informasi dan menganalisisnya sendiri serta menentukan pendapat pribadi. Pak Awang juga mengutipkan dua miskonsepsi dari Gore (2006) dari 10 miskonsepsi tentang global warming.

Di luar perdebatan itu, yang terbaik yang kita lakukan adalah mendukung dan melaksanakan secara pribadi dan keluarga usaha2 untuk menghemat energi. Sekecil apapun usaha ke arah itu akan tetap lebih baik dibandingkan ketidakpedulian. Hal2 kecil berikut adalah contoh usaha2 yang bisa kita lakukan : jangan boros menggunakan listrik di rumah, jangan boros menggunakan BBM, jangan boros menggunakan kertas. Usaha kecil yang akan berarti besar bila dilakukan konsisten dan masal.